 | Silahkan Lihat - Lihat.... | |
Sebuah karya - karya kecil yang coba merangkak dari bawah untuk berjuang tegak....
|  | coba-coba belajar motret food product dengan makanan Jepang... setting table dan aksesoris nya pun dibuat ala makanan Jepang...
menggunakan lighting : - Sigma DG 500 Super - Sunpak ( lupa serinya, bentuknya mirip Metz CT1 ) + filter warna kuning - PT-04 - reflektor
setting lampu berubah-ubah, olah2 di PS dengan tone agak "warm"
silahka dikomentari yahh... |
|  | Lendy Widayana adalah seorang freelance documentary photographer. beliau juga salah satu founder www.indonesiadiscovery.net, serta diskusi dan sharing foto antar fotografer di Surabaya, Malang dan Yogyakarta.
karya beliau yang terakhir adalah penggarapan buku para tentara langit yang berjudul "Berpijak di Bumi, Menggapai Langit". buku yang bercerita tentang kegiatan Angkatan Udara Republik Indonesia ( AURI )
Beliau meninggal akibat kecelakaan meledaknya water heater, setelah dirawat selama kurang lebih 6 hari di RS Borromeus Bandung. Beliau meninggal pada 23 Januari 2009 pukul 09.30 dan dimakamkan di pemakaman Kristen Sukun, Malang pada tanggal 25 Januari 2009, setelah sebelumnya disemayamkan terlebih dahulu di Yayasan Gotong Royong.
selamat jalan kawan.. semoga engkau bahagia disisi-Nya. Candamu, senyumanmu, wejanganmu bahkan kritikan pedasmu akan kami kenang selalu...
liputan dan berita lainnya --> http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=3194028746
|
|  | Pasar Pabean Surabaya yang terletak di sisi Utara kota Surabaya merupakan salah satu pasar terbesar yang ada di kota pahlawan ini. Pasar Pabean didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur, serta beberapa kota di Indonesia Timur. |
|  | Ludruk Irama Budaya ( LIB )yang terletak di Jl. Pulo Wonokromo, Surabaya merupakan salah satu grup Ludruk tertua di Jawa Timur. Pada awalnya mereka menyebut dirinya sebagai Ludruk Tobongan, yang artinya permainan ludruk mereka selalu berpindah – pindah tempat. Baik itu di Surabaya sendiri maupun “tanggapan” keluar kota. LIB sendiri sudah berdiri sejak tahun 1987, dibawah pimpinan…. , pada awalnya LIB didirikan oleh 10 orang pemain, dengan 2 waria didalamnya. Namun kini dari 10 orang tersebut sudah 8 orang yang meninggal, hanya tersisa bapak Hengky dan bapak Sunarya Sakiyah ( 54 thn ) atau biasa dipanggil Mak Yah yang kini menjadi pimpinan LIB. Menurut Mak Yah, ludruk sendiri pernah mengalami masa suram ketika masa Orde Baru, karena cerita dalam ludruk banyak menyampaikan kritik sosial. Beberapa anggotanya mengalami ketakutan dan banyak yang lari dan sembunyi. Pada saat itu ludruk masih tergabung dalam LEKRA ( Lembaga Kesenian Rakyat ). Tetapi bagi Mak Yah tetap yakin bahwa ludruk tidak akan pernah mati meki dalam keadaan apapun. Meski LIB adalah budaya asli Surabaya, tetapi mereka tidak mendapat subsidi agar biaya operasional kesenian ludruk dapat berjalan dengan baik. Bahkan saat ini Mak Yah harus membayar biaya kontrak gedung sebesar 8 juta / tahun. Belum termasuk listrik, air, dan lainnya. “Kami tidak butuh subsidi makanan dari pemerintah atau dari siapapun, itu bisa kami cari sendiri. Ayam gak dikasih makan aja masih bisa cari makan, masa kita yang manusia gak bisa?. Kami hanya butuh “kandang”, karena ayampun tetap butuh kandang” kata Mak Yah sambil menahan haru dan menitikan air mata. “ Saya ini orang Surabaya dan saya orang Indonesia, saya dan teman – teman disini berkewajiban menjaga tradisi Ludruk, karena Ludruk gak akan pernah mati..!!” kata Mak Yah dengan tegas diiringi dengan tatapannya yang tajam. LIB memiliki prestasi yang membanggakan ketika memperoleh juara 1 Ludruk Terbaik Se-Jawa Timur pada tahun 2004. Dan Agustus 2007 lalu mereka diundang ke Jakarta oleh bapak Sutiyoso ( mantan Gubernur DKI ). Mereka diundang secara khusus untuk menghibur masyarakat Jakarta, bahkan pada saat itu Sutiyoso, beserta beberapa pejabat lainnya ikut serta dalam permainan ludruk. Mereka juga dimanjakan dengan tidur di hotel berbintang, diajak jalan – jalan ke Dufan. “ Pada saat itu kami sungguh sangat bangga dan gembira banget mas… kami benar – benar dimanjakan. Kemana pun kita mau diantarkan..saya ini sampai nangis mas… “ kata Mak Yah dengan gembira LIB saat ini terdiri dari 62 orang, yang diantaranya ada yang menjadi sinden, pemain karawitan (penjak), sutradara, tata panggung dan pemain ludruk itu sendiri. Setiap harinya mereka tetap manggung meski jumlah penontonnya sedikit, setidaknya minimal 15 orang penonton baru mereka mau manggung. Karena hanya dengan tiket sebesar Rp 4.000,-/orang. Kalau penontonnya kurang dari 15 orang, tidak akan mencukupi biaya operasionalnya. LIB memiliki ciri khas yang sangat istimewa, karena setiap hari mereka selalu memiliki cerita yang baru tutur pak Prapto ( 53 tahun ), yang saat ini dipercaya menjadi sutradara bersama 3 orang rekannya lagi. Menurutnya ide cerita kadang – kadang muncul begitu saja, bisa dari ketika mengopi di warung, dari cerita teman, berita di Koran atau darimana pun. Bahkan ketika diwawancara, ide cerita untuk lakon hari itu baru dibuat jam 4 sore. Padahal mereka harus manggung jam 9 malam. Ketika dipanggung semua kata – kata mengalir begitu saja, tanpa harus latihan. Setiap pemain sudah tahu harus bicara apa, tanpa naskah. Bahkan koordinasi antara pemain dengan penjak ( pemain karawitan ) sudah berjalan baik tanpa latihan khusus. Menurut beliau setiap pemain disini memiliki jam terbang yang cukup tinggi, lalu bagaimana untuk anggota yang baru saja belajar? “ Sebelum masuk ludruk, masing – masing anggota sudah dibekali dengan bakat seni, pemain lama hanya sedikit membimbing saja pasti bisa “ tutur pak Prapto yang sehari – harinya menjadi supir freelance.
|
|  | kehidupan penambang belerang yang sangat jauh dari layak, bahkan memprihatinkan. terlebih dahulu mereka harus berjalan naik sejauh 3 km menuju puncak kawah, lalu turun kedalam kawah sejauh 1 km melewati jalanan yang terjal dan licin. dengan menghirup asap belerang yang dapat membuat dada menjadi sesak, bahkan beberapa dari mereka mengalami batuk - batuk dan pingsan. rata-rata beban pikulan mereka bisa mencapai 100kg, yang dipanggul diatas pundak mereka. setelah itu mereka turun lagi kebawah untuk menjual hasil tambangannya, tragisnya kerja keras mereka hanya dihargai 600 rupiah/kg.
semoga kehidupan mereka semakin layak dihari-hari berikutnya... |
|  | acara tahunan yang selalu digelar oleh Citraraya, untuk memeriahkan festival di Gwalk. Festival ini selalu melibatkan beberapa negara sahabat, antara lain China, Korea, Brunei, Thailand,USA, dll.. |
|  | lagi iseng-iseng nggak ada kerjaan, kepengen jalan aja terus berhenti deh di TP jongkok... hehehe |
|  | Motret panggung pun sebenarnya juga bisa dilakukan dengan menggunakan kamera poket yang harganya cuma 1 jutaan... tergantung gimana kita pakenya aja...
hehehe SALAM |
|  | Coba - coba motret pake kamera digital pertama saya.. semua diambil pake Canon Powershot A410.. semoga suka |
|  | Melihat dunia dengan dua warna.... |
|  | Long Live Photography!!! |
| |